Langsung ke konten utama

Keutamaan Tauhid dan dosa yang digugurkannya


BAB 2


فَضْلُ التَّوْحِيْدِ وَ مَا يُكَفِّرُ مِنَ الذُّنُوْبِ 

KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIGUGURKANNYA

Pada Bab pertama yang lalu telah dijelaskan tentang makna dan hakekat dari Tauhid, pada bab yang kedua ini Muallif Rahimahumullah menjelaskan kepada kita tentang salah satu keutamaan dari Tauhid, yakni Tauhid dapat menghapuskan dosa-dosa.

Tauhid memiliki keutamaan yang sangat banyak, akan tetapi keutamaan yang paling besar dan paling dibutuhkan oleh seorang hamba adalah dihapuskannya dosa-dosa seorang hamba karena tidak ada satupun dari kita yang luput dari berbuat dosa.


Pada bab kedua ini Muallif Rahimahumullah membawakan 5 dalil

Dalil 1, Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kedzhaliman (kemusyrikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.” (QS. Al An’am: 82). 

Kedzaliman pada ayat ini maksudnya adalah kesyirikan

Ibnu Mas’ud berkata :

لَمَّا نَزَلَتْ {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} شَقَّ ذَلِكَ عَلَى المُسْلِمِينَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟ قَالَ: «لَيْسَ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ»

Tatkala turun firman Allah (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kezaliman), maka hal itu terasa berat oleh kaum muslimin. Maka mereka berkata, “Ya Rasulullah, siapakah diantara kita yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”. Nabi berkata, “Tidaklah demikian, yang dimaksud (dengan kezaliman) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada putranya tatkala sedang menasehatinya, “Wahai putraku janganlah engkau berbuat kesyirikan kepada Allah, sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang besar” (HR Al-Bukhari no 3360 dan 3429)

Maksud dari keamanan adalah keamanan dari siksa/adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Sedangkan maksud diberikan hidayah adalah diberikan hidayah Taufik berjalan di atas jalan yang lurus dan dikokohkan diatasnya.

Artinya orang yang tidak mencampurkan keimanan (tauhid) mereka dengan kesyirikan akan memperoleh keamanan dari siksa Allah karena terhapusnya dosa-dosa dengan pahala tauhid dan mereka itulah yang mendapat Taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia.


Dalil 2, Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ ))

“Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya (yaitu kalimat كُنْ –pent) yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dariNya (yaitu dari ruh-ruh ciptaan-Nya –pent) dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, bagaimanapun kondisi amal perbuatannya.” (HR. Bukhari & Muslim). 

Hadist di atas menunjukkan bahwa orang yang bertauhid dengan bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah –disertai dengan aqidah yang lain yang disebutkan dalam hadits- maka ia pasti masuk surga (secara langsung, atau disiksa terlebih dahulu), meskipun amalannya kurang, meskipun ia memiliki dosa-dosa, karena tauhidnya memiliki keutamaan yang sangat agung.

Sabda nabi shalallahu alaihi wasallam (Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, berdasarkan kondisi amal perbuatannya), maksudnya adalah ia akan masuk surga akan tetapi kedudukannya di surga berdasarkan amalannya. Karena surga bertingkat-tingkat. Nabi bersabda :

إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ وَأَعْلَى الجَنَّةِ – أُرَاهُ – فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ

“Sesungguhnya di surga ada 100 derajat yang Allah siapkan untuk para mujahidin fi sabilillah. Jarak antara dua derajat sebagaimana antara langit dan bumi. Jika kalian memohon kepada Allah maka mohonlah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada ‘arys Allah, dan dari surga tersebutlah mengalir sungai-sungai surga” 
(HR Al-Bukhari no 2790).

Dalil 3, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari ‘Itban radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda:

(( فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ ))

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”. 

Hadits ketiga ini menunjukkan tentang keutamaan bagi orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah, yaitu neraka diharamkan baginya. 

Pada hadits ini jika seseorang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan ikhlas dan memurnikan diri dari kesyirikan namun melakukan sebagian dosa dan kemaksiatan sehingga meninggal sebelum bertaubat darinya, maka ia berada di bawah kehendak Allah.

Hadist Ini juga menunjukkan bahwa yang menyelamatkan bukan hanya sekedar mengucapkan laa ilaaha illalllah, tapi harus memenuhi persyaratannya.

diantaranya adalah ikhlas karena Allah, sekedar mengucapkan tanpa memahami maknanya dan tanpa mengharapkan wajah Allah tidak akan memberi manfaat sama sekali. 

Dalil 4, Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( قَالَ مُوْسَى يَا رَبِّ، عَلِّمْنِيْ شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ، قَالَ: قُلْ يَا مُوْسَى: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ، قَالَ: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هَذَا، قَالَ: يَا مُوْسَى لَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِيْ وَالأَرْضِيْنَ السَّبْعَ فِيْ كِفَّةٍ، وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ فِيْ كِفَّـةٍ، مَالَتْ بِهِـنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ ))

“Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman:” ucapkan hai Musa لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab:” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya). 

Makna hadist ini adalah jika seandainya ada dosa seberat langit dan bumi lalu ditimbang dibandingkan dengan laa ilaaha illallah maka masih lebih berat laa ilaaha illallah

Dalil 5, Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata: “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً))

“Allah Ta'ala berfirman: “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula”. 

Kandungan hadist ini, apabila seseorang bertauhid dan selamat dari kesyirikan maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun dosanya sepenuh bumi.

Bab ini secara khusus menjelaskan tentang luasnya rahmat Allah.

Dan diantara luasnya rahmat Allah adalah dihapuskannya dosa-dosa bukan hanya lewat pintu taubat saja akan tetapi masih ada pintu-pintu yang lain. Diantaranya adalah pintu tauhid

Setelah menyebutkan dalil-dalil bab Muallif Rahimahumullah menulis beberapa kandungan dari bab

Kandungan bab ini: 
  1. Luasnya karunia Allah ‘Azza wa Jalla. 
  2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. 
  3. Dan tauhid juga dapat menghapus dosa. 
  4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am. 
  5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah. 
  6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya. 
  7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya). 
  8. Para Nabipun perlu diingatkan akan keistimewaan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ. 
  9. Penjelasan bahwa kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut. 
  10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit. 
  11. Langit dan bumi itu ada penghuninya. 
  12. Menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah. 
  13. Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban: “sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja. 
  14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya. 
  15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah. 
  16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah. 
  17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka. 
  18. Memahami sabda Rasul: “betapapun amal yang telah dikerjakannya”. 
  19. Mengetahui bahwa timbangan (di hari kiamat) itu mempunyai dua daun. 
  20. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah. 

Komentar